Minggu, 21 November 2010

Makalah Bahasa Indonesia

MAKALAH BAHASA INDONESIA
EJAAN BAHASA INDONESIA YANG DISEMPURNAKAN


 Oleh
SUMARYANTO
F1A108205











 FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2008




PRAKATA


         Dengan rasa syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya yang dilimpahkan kepada kami, sehingga makalah Bahasa Indonesia ini dapat terselesaikan dengan waktu yang ditentukan.
           Makalah ini merupakan tugas yang diberikan kepada kami mahasiswa mata kuliah Bahasa Indonesia Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat.  Semoga makalah ini dapat menjadi bahan acuan kita dalam perkembangan Bahasa Indonesia saat ini.
             Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada bapak dosen Bahasa Indonesia, yang telah memberikan tugas makalah, serta bimbingan beliau sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar.  Saya menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna.
            Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi kemajuan bersama. Semoga makalah ini dapat menjadi sumbangsih bagi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan agama dimasa yang akan datang. 


Banjarbaru, Desember 2008

                                                                                                                                    Sumaryanto,







I.                  PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Bahasa Banjar adalah sebuah bahasa Austronesia yang dipertuturkan di provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia.  Bahasa Banjar merupakan anak cabang bahasa yang berkembang dari Bahasa Melayu.  Asal bahasa ini berada di provinsi Kalimantan Selatan yang terbagi atas Banjar Kandangan, Amuntai, Alabiu, Kalua, Alai dan lain-lain.  Bahasa Banjar dihipotesiskan sebagai bahasa proto-Malayik, seperti hal nya bahasa Minangkabau dan bahasa Serawai (Bengkulu).
Selain di Kalimantan Selatan, Bahasa Banjar yang semula sebagai bahasa suku bangsa juga menjadi bahasa lingua franca di daerah lainnya, yaitu Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur serta di daerah kabupaten Indragiri Hilir, Riau, sebagai bahasa penghubung antar suku.
Bahasa Banjar banyak dipengaruhi oleh bahasa Melayu, Jawa dan bahasa-bahasa Dayak.  Bahasa Banjar atau sering pula disebut Bahasa Melayu Banjar terdiri atas dua kelompok dialek yaitu;
    * Bahasa Banjar Hulu
    * Bahasa Banjar Kuala
Bahasa Banjar Hulu merupakan dialek asli yang dipakai di wilayah Banua Enam yang merupakan bekas Afdelling Kendangan dan Afdeeling Amoentai yang meliputi kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Balangan dan Tabalong.
Puak-puak suku Banjar Hulu Sungai dengan dialek-dialeknya masing-masing relatif bersesuaian dengan pembagian administratif pada zaman kerajaan Banjar dan Hindia Belanda yaitu menurut Lalawangan atau distrik (Kawedanan) pada masa itu, dimana pada zaman sekarang sudah berbeda.  Puak-puak suku Banjar di daerah Hulu Sungai tersebut misalnya :
   1. Orang Kelua dari bekas Distrik
      Kelua di hilir Daerah Aliran Sungai Tabalong, Tabalong

   2. Orang Tanjung dari bekas Distrik
      Tabalong di hulu Daerah Aliran Sungai Tabalong, Tabalong
   3. Orang Balangan dari bekas Distrik Balangan (Paringin) di Daerah
      Aliran Sungai Balangan, Balangan

   4. Orang Amuntai dari bekas DistrikAmuntai di Hulu Sungai Utara

   5. Orang Alabio dari bekas Distrik Alabio di Hulu Sungai Utara

   6. Orang Alai dari bekas Distrik
      Batang Alai di Daerah Aliran Sungai Batang Alai, Hulu Sungai Tengah

   7. Orang Labuan Amas dari bekas Distrik Labuan Amas di Daerah Aliran
      Sungai Labuan Amas Hulu Sungai Tengah

   8. Orang Negara dari bekas DistrikNegara di tepi Sungai Negara,
      Hulu Sungai Selatan

   9. Orang Kandangan dari bekas diAliran Sungai Amandit, Hulu Sungai Selatan

  10. Orang Margasari dari bekas Distrik Margasari di Tapin

  11. Orang Rantau dari bekas Distrik Benua Empat di Daerah Aliran
      Sungai Tapin, Tapin

  12. dan lain-lain.

Kelua, Amuntai, Alabio, Negara dan Margasari merupakan kelompok Batang Banyu, sedangkan Tanjung, Balangan, Kandangan, Rantau merupakan kelompok Pahuluan.  Daerah Oloe Soengai dahulu merupakanpusat kerajaan Hindu, dimana asal mula perkembangan bahasa Melayu Banjar.
Dialek-dialek Bahasa Banjar Hulu menurut Fudiat Suryadikara (Geografi Dialek Bahasa Banjar Hulu, Depdikbud, 1984) bersesuaian dengan kecamatan-kecamatan yang berpenduduk suku Banjar yang ada di Hulu Sungai, karena orang Banjar menyebut dirinya berdasarkan asal kecamatan masing-masing. Dialek-dialek tersebut antara lain : Muara Uya, Haruai, Tanjung, Tanta, Kelua, Banua Lawas,
Amuntai Utara, Amuntai Tengah, Amuntai Selatan, Danau Panggang, Babirik, Sungai Pandan (Alabio), Batu Mandi, Lampihong, Awayan, Paringin, Juai, Batu Benawa, Haruyan, Batang, Alai Selatan, Batang Alai Utara, Barabai, Pandawan,
LabuanAmas Selatan, Labuan Amas Utara, Angkinang, Kandangan, Simpu, Daha
Selatan (Negara), Daha Utara, Sungai Raya, Telaga Langsat, Padang Batung, Candi Laras Utara (Margasari Hulu), Candi Laras Selatan (Margasari Hilir), Tapin Selatan,
Tapin Tengah, Tapin Utara, Binuang.
Mengingat orang-orang Banjar yang berada di Sumatera dan Malaysia Barat mayoritas berasal dari wilayah Hulu Sungai (Banua Enam), maka bahasa Banjar yang dipakai merupakan campuran dari dialek Bahasa Banjar Hulu menurut asal usulnya di Kalimantan Selatan.  Dialek bahasa Banjar Hulu juga dapat ditemukan di
kampung-kampung (handil) yang penduduknya asal Hulu Sungai seperti di Kecamatan Gambut, Aluh Aluh, Tamban yang terdapat di wilayah Banjar Kuala.
Dialek Bahasa Banjar Kuala yaitu bahasa yang dipakai di wilayah Banjar Kuala yaitu bekas Afdelling Banjarmasin terdiri atas Distrik Bakumpai dan Afdeeling Martapoera terdiri dari Distrik Martapura, Distrik Riam Kiwa, Distrik Riam Kanan, Distrik Pleihari, Distrik Maluka dan Distrik Satui. Kawasan tersebut pada masa sekarang ini meliputi Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tanah Laut, serta kota Banjarmasin dan Banjarbaru.
 Pemakaiannya meluas hingga wilayah pesisir bagian tenggara Kalimantan (bekas Afdelling Kota Baru) yaitu kabupaten Tanah Bumbu dan Kota Baru sampai ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Bahasa Banjar Kuala dituturkan dengan logat datar tanpa intonasi tertentu, jadi berbeda dengan bahasa Banjar Hulu dengan logat yang kental (ba-ilun).
Dialek Banjar Kuala yang asli misalnya yang dituturkan di daerah Kuin, Sungai Jingah, Banua Anyar dan sebagainya di sekitar kota Banjarmasin yang merupakan daerah awal berkembangnya kesultanan Banjar. Dialek Barangas dipakai di daerah Bantam Raya (Berangas-Anjir-Tamban) yaitu kawasan di sekitar wilayah luar kota Banjarmasin (Kabupaten Barito Kuala).
Bahasa Banjar yang dipakai di Kalimantan Tengah cenderung menggunakan
logat Dayak, sehingga keturunan Jawa yang ada di Kalteng (Tamiang Layang), lebih menguasai bahasa Banjar berlogat Dayak (Maanyan) daripada bahasa Dayak itu sendiri yang sukar dipelajari.


B.  Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1.    Mengetahui perbedaan Bahasa antara Suku Banjar dan Suku yang ada di Kalimantan
2.    Mengetahui perkembangan Bahasa Banjar
3.    Mengetahui sejarah Bahasa Banjar.




II.               PEMBAHASAN
Karena kedudukannya sebagai lingua franca, pemakai bahasa Melayu Banjar lebih banyak daripada jumlah suku Banjar itu sendiri.  Pemakaian bahasa Melayu Banjar dalam percakapan dan pergaulan sehari-hari di daerah ini lebih dominan dibandingkan dengan bahasa Indonesia.  Berbagai suku di Kalimantan Selatan dan sekitarnya berusaha menguasai bahasa Banjar, sehingga dapat pula kita jumpai bahasa Banjar yang diucapkan dengan logat Jawa atau Madura yang masih terasa kental seperti yang kita jumpai di kota Banjarmasin.
Penulisan nama tempat dari bahasa Banjar sudah disesuaikan dengan bahasa Indonesia (diindonesiakan).  Penulisan yang resmi seperti Tabalong (Tabalung),
Barito (Baritu), Ot Danum (Ut Danum), Tebingtinggi (Tabingtinggi), Alabio (Halabiyu), Kelua (Kalua), Lampihong (Lampihung), dan lain-lain.  Sedangkan di wilayah suku Dayak Maanyan di Barito Timur, penulisan nama tempat yang resmi dipakai adalah yang sesuai pengucapan lidah orang Banjar bukan dalam logat Maanyan, misalnya desa Wamman menjadi desa Bamban, desa Wammulung menjadi desa Bambulung, dan lain-lain.
Penulisan bahasa Banjar pada jaman dahulu dalam aksara Arab Melayu (Jawi) misalnya : sastera sejarah/mitos seperti Hikayat Banjar, peraturan kerajaan seperti Undang-Undang Sultan Adam 1825, perjanjian-perjanjian antara Kerajaan Banjar dengan bangsa lain, kitab-kitab agama Islam, karya sastera lainnya seperti syair, Syair Brahma Syahdan karya Gusti Ali Basyah Barabai, dan lain-lain.
Hikayat Banjar pernah diteliti oleh Johannes Jacobus Ras, orang Belanda
kelahiran Rotterdam tahun 1926 untuk disertasi doktoralnya di Universitas Leiden. Promotornya adalah Dr. A. Teeuw.
Dalam hal ini kita dapat membedakan  Perbandingan bahasa Banjar dan bahasa lainnya di Kalimantan :

1. Bahasa Banjar vs Bahasa Dayak Maanyan

    * warik (Banjar), warik (Dayak Maanyan), varika
      (Marina-Madagaskar); artinya monyet

    * balian (Banjar), wadian (Maanyan); artinya tabib/upacara
      pengobatan tradisional Dayak

    * Lambung Mangkurat (versi Banjar), Dammung Bakurap (versi
      Maanyan); artinya nama Patih Kerajaan Negara Dipa

    * bumi (Banjar), gumi (Maanyan); artinya bumi.


2. Bahasa Banjar vs Bahasa Dayak Bakumpai


    * umpat (Banjar), umba (Dayak Bakumpai); artinya ikut

    * nasi (Banjar), nasi (Dayak Bakumpai); artinya nasi

    * aray (Banjar Hulu), aray (Dayak Bakumpai); artinya senang

    * babaya (Banjar), babaya (Dayak Bakumpai); artinya hampir

    * diang (Banjar Hulu), diang (Dayak Bakumpai); artinya anak dara
      - diyang (bakumpai)- anak dara

    * talalu (Banjar), talalu (Dayak Bakumpai); artinya terlalu

    * hanyar (Banjar), hanyar (Dayak Bakumpai); artinya baru - bahua
      (bakumpai) artinya baru

    * gawi (Banjar), gawi (Dayak Bakumpai); artinya kerja

    * bagus (Banjar), bagus (Dayak Bakumpai); artinya bagus - bahalap
      (bakumpai) artinya bagus

    * uma (Banjar), uma (Dayak Bakumpai); artinya ibu

    * kulir (Banjar), kulir (Dayak Bakumpai); artinya malas - koler
      (bakumpai) artinya malas

    * aku (Banjar), yaku (Dayak Bakumpai); artinya aku

    * pina (Banjar), puna (Dayak Bakumpai); artinya menujukkan
      sikap.


3. Bahasa Banjar vs Bahasa Dayak Ngaju


    * lumbah (Banjar), lombah (Dayak Ngaju); artinya luas

    * busu (Banjar), busu (Dayak Ngaju); artinya saudara dari
      orangtua kita yang termuda (bungsu)

    * lawung (Banjar), lawung (Dayak Ngaju); artinya ikat kepala

    * tangguy (Banjar), tangguy (Dayak Ngaju); artinya sejenis topi
      lebar berbentuk bundar

    * baju (Banjar), kalambi (Dayak Ngaju); artinya baju

    * berapa (Banjar), pire (Dayak Ngaju); artinya berapa

    * akay-ah (Banjar Hulu), akayah (Dayak Ngaju); artinya
      "aduh"

    * danau, baruh (Banjar), tasik (Dayak Ngaju); artinya danau.


4. Bahasa Banjar vs Bahasa Dayak Bukit


    * tawing (Banjar), dinding (Dayak Bukit); artinya dinding

    * banih (Banjar), padi (Dayak Bukit); artinya padi

    * anum (Banjar), muda (Dayak Bukit); artinya muda

    * lawang (Banjar), pintu (Dayak Bukit); artinya pintu

    * janar (Banjar), kunyit (Dayak Bukit); artinya kunyit

    * hayam (Banjar), hayam, hamanuk (Dayak Bukit); artinya ayam

    * aruh (Banjar Hulu), aruh (Dayak Bukit); artinya kenduri,
      selamatan

    * ganal (Banjar), ganal (Dayak Bukit); artinya besar

    * bukah (Banjar), bukah (Dayak Bukit); artinya lari

    * hual (Banjar), hual (Dayak Bukit); artinya tengkar.


5. Bahasa Banjar vs Bahasa Kutai


    * busu (Banjar), busu (Kutai); artinya saudara dari orangtua kita
      yang termuda (bungsu)

    * umpat (Banjar), umpat (Kutai); artinya ikut

    * kawa (Banjar), kawa (Kutai); artinya dapat, bisa

    * kayina (Banjar), kendia (Kutai);artinya nanti

    * inya (Banjar), nya (Kutai);artinya dia

    * sidin (Banjar), sida (Kutai); artinya beliau

    * muntung (Banjar), moncong, sungut (Kutai); artinya mulut

    * karinyum (Banjar), kerinyum (Kutai); artinya senyum

    * rancak (Banjar), rancak (Kutai); artinya sering

    * marista (Banjar), merista (Kutai); artinya sengsara

    * harit (Banjar), harit (Kutai); artinya menahan perasaan

    * garing (Banjar), garing (Kutai); artinya sakit

    * buku lali (Banjar), buku lali (Kutai); artinya matakaki

    * urang tuha (Banjar), urang tuha (Kutai); artinya orang tua

    * salawar dalam (Banjar), seloar dalam (Kutai); artinya
      celana

    * sanja (Banjar), pejah matahari (Kutai); artinya senja

    * bini anum (Banjar), bini muda (Kutai); artinya isteri muda

    * rahatan (Banjar), rahatan (Kutai); artinya sedang

    * hanang banar (Banjar), habang beneh (Kutai); artinya merah
      sekali

    * makan bahimat (Banjar), makan bahimat (Kutai); artinya makan
      sekuat-kuatnya

    * haja (Banjar), haja (Kutai); artinya saja

    * kucing kurus (Banjar), koceng koros (Kutai); artinya kucing
      kurus

    * wayahini (Banjar), wayah ni (Kutai); artinya sekarang

    * parut (Banjar), perot (Kutai); artinya perut

    * lawas (Banjar), lawas (Kutai); artinya lama

    * batis (Banjar), betis (Kutai); artinya kaki

    * ucus (Banjar), ucus (Kutai); artinya usus

    * kiwa (Banjar), kiwa (Kutai); artinya kiri

    * talu (Banjar), telu (Kutai); artinya tiga

    * banyu (Banjar), aer (Kutai); artinya air

    * pagat (Banjar), pegat (Kutai); artinya putus

    * iwak (Banjar), iwak, jukut (Kutai); artinya ikan

    * ilat (Banjar), elat (Kutai); artinya lidah

    * dadai (Banjar), dadai (Kutai); artinya jemur

    * jabuk (Banjar), jabok (Kutai); artinya lapuk

    * andak (Banjar), andak (Kutai); artinya taruh

    * luar (Banjar), jaba (Kutai); artinya luar

    * kawah (Banjar), kawah (Kutai); artinya kuali

    * muha (Banjar), muha (Kutai); artinya muka, wajah

    * puhun (Banjar), puhun (Kutai); artinya pohon

    * kolehan (Banjar Kuala), polehan (Kutai); artinya hasil

    * kesah (Banjar Kuala), kesah (Kutai); artinya kisah

    * tajak (Banjar), tajak (Kutai); artinya tancap

    * pacul (Banjar), pacul (Kutai); artinya lepas

    * amun (Banjar), amun (Kutai); artinya kalau

    * padah (Banjar), padah (Kutai); artinya bilang

    * jawau (Banjar), jabau (Kutai); artinya singkong

    * payau (Banjar), payau (Kutai); artinya rusa

    * lawai (Banjar), lawai (Kutai); artinya benang

    * satundunan (Banjar), satundunan (Kutai); artinya
      setandanan

    * tutuk (Banjar), tutuk (Kutai); artinya tumbuk

    * tatak (Banjar), tetak (Kutai); artinya potong

    * jarang (Banjar), jerang (Kutai); artinya memasak air

    * carik (Banjar), carek (Kutai); artinya robek

    * guring (Banjar), goreng, tidur (Kutai); artinya tidur

    * sanga (Banjar), sanga (Kutai); artinya goreng

    * olah (Banjar), olah (Kutai); artinya buat

    * muyak (Banjar), muyak (Kutai); artinya bosan

    * wada (Banjar), wada (Kutai); artinya cela

    * uyah (Banjar), uyah (Kutai); artinya garam

    * acan (Banjar), acan (Kutai); artinya terasi

    * sudu (Banjar), sudu (Kutai); artinya sendok

    * lading (Banjar), lading (Kutai); artinya pisau

    * lawang (Banjar), lawang (Kutai); artinya pintu

    * sarudung (Banjar), serudung (Kutai); artinya kerudung

    * kamih (Banjar), kemeh (Kutai); artinya air kencing

    * hera' (Banjar), herak (Kutai); artinya tahi

    * kiyau (Banjar), kiyau (Kutai); artinya panggil

    * putik (Banjar), putik (Kutai); artinya petik

    * tapas (Banjar), tepas (Kutai); artinya cuci

    * parak (Banjar), parak (Kutai); artinya dekat
    * halus (Banjar), halus (Kutai); artinya kecil

    * bujur (Banjar), bujur (Kutai); artinya betul, lurus

    * lanjung (Banjar), lanjong (Kutai); artinya keranjang

    * karadau (Banjar), keradau (Kutai); artinya omong kosong

    * bancir (Banjar), bancir (Kutai); artinya banci

    * gair (Banjar), gaer (Kutai); artinya takut

    * jauh (Banjar), jaoh (Kutai); artinya jauh

    * karing (Banjar), kereng (Kutai); artinya kering

    * habang anum (Banjar), habang muda (Kutai); artinya merah
      muda

    * buting (Banjar), buting (Kutai); artinya buah

    * selawi (Banjar Kuala), selawe (Kutai); artinya duapuluh
      lima

    * tihang (Banjar), tihang (Kutai); artinya tiang

    * mandi (Banjar), mendi (Kutai); artinya mandi

    * sodok (Banjar Kuala), sodok (Kutai); artinya tikam

    * tulak (Banjar), tulak (Kutai); artinya berangkat

    * surung (Banjar), sorong (Kutai); artinya sodor

    * kurus karing (Banjar), koros kereng (Kutai); artinya kurus
      kering

    * ular sawa (Banjar), tedung sawah (Kutai); artinya ular
      Sawah.


Suku Maanyan atau Dayak Maanyan (Ma'anyan) adalah suku asli di kabupaten Barito Timur , bagian timur Kalimantan TengahSuku ini juga terdapat di kabupaten Barito Selatan dan Tabalong ( Kalimantan Selatan ).  Menurut situs "Joshua Project" suku Maanyan berjumlah 71.000 jiwa.  Menurut sastra lisan suku Maanyan, setelah mendapat serangan Marajampahit ( Majapahit ) kepada Kerajaan Nan Sarunai, suku ini terpencar-pencar menjadi beberapa subetnis.  Suku terbagi menjadi 7 subetnis, diantaranya :
- Maanyan Paju Epat
- Maanyan Benua Lima (Paju Lima)
- Maanyan Paju Sapuluh

            Bahasa Dayak Maanyan banyak memiliki persamaan dengan bahasa di Madagaskar.  Organisasi suku ini adalah "Dusmala" yang menggabungkan 3 suku Dayak yang serumpun yaitu suku Dayak Dusun, Maanyan dan suku Dayak Lawangan " =Suku Maanyan di Kalimantan Selatan= Dayak Warukin di desa Warukin, Kecamatan Tanta, kabupaten Tabalong merupakan bagian dari Maanyan Benua Lima.  Maanyan Benua Lima merupakan subetnis Maanyan yang terdapat di kecamatan Benua Lima, Barito Timur.  Nama asalnya Maanyan Paju Lima.  Istilah "benua" berasal dari Bahasa Banjar.  Upacara adat rukun kematian Kaharingan pada Dayak Warukin disebut mambatur.  Istilah ini pada subetnis Maanyan Benua Lima pada umumnya disebut marabia.  Golongan suku Dayak Maanyan lainnya adalah Dayak Balangan (Dusun Balangan) di hulu sungai Balangan kecamatan Halong, Balangan dan Dayak Samihim di Kota Baru.
Suku Lawangan atau Dayak Lawangan adalah suku asli di bagian timur Kalimantan Tengah. Menurut situs "Joshua Project" suku Lawangan berjumlah 101.000 jiwa. Organisasi suku ini adalah "Dusmala" yang menggabungkan 3 suku Dayak yaitu suku Dayak Dusun, suku Dayak Maanyan dan Lawangan".
Suku Dusun Deyah atau Dayak Dusun Deyah adalah suku asli di kecamatan Muara Uya, kabupaten Tabalong, bagian utara Kalimantan SelatanMenurut situs "Joshua Project" suku Dusun Deyah berjumlah 20.000 jiwa.



III.           PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dalam makalah sastara banjar ini kita dapat tau perbedaan bahasa banjar dengan bahasa yang ada dikalimantan , abjad yang digunakan terdiri atas huruf-huruf yaitu huruf vokal dan konsonan.  Setiap satu kata dalam bahasa banjar maka lain pula artinya dengan bahasa yang lainnya.  Begitu pula pada kata yang terdapat dua huruf konsonan berurutan ditengahnya, kecuali jika terdapat gabungan huruf konsonan.  Tetapi dalam bahasa  banjar ada juga yang sama artinya dengan bahasa yang lain. 
B.      Saran
Semoga dengan adanya makalah yang saya tulis ini, kita dapat mengetahui perbedaan bahasa banjar dengan bahasa yang ada dikalimantan.  Semoga dalam pembuatan makalah sastra banjar dapat berguna bagi generasi dimasa yang akan datang.







DAFTAR PUSTAKA
www.google.Sastra Bahasa Banjar.com

0 komentar:

Poskan Komentar